Anakku, 8 Bulan, Terjatuh

Senang rasanya punya seorang jagoan kecil yang senyumnya menggemaskan. Anakku umur 8 bulan, kadang dia panas, kadang dia batuk dan kadang hidungnya meler. Ya hanya itu saja sakitnya yang aku tahu. Aku sendiri seorang wanita karir, suami juga bekerja lumayan jauh dari rumah.

Awal Kejadian
Pada sore itu kebetulan suamiku pulang duluan ke rumah sementara aku   maghrib baru sampai Rumah. Seperti hari hari sebelumnya orangtua ku menjaga si jagoan. Panggil saja namanya Kaka Farhan (bukan nama sebenarnya).
Seperti biasa setelah mengganti pakaian dan bersiap untuk mandi suamiku bercanda dan mengajak bicara tentu dengan bahasa yang masih aneh khas orangtua ke bayinya. Saat itulah suamiku memperhatikan ada benjolan lumayan besar. Sangat tidak mungkin digigit serangga, terlalu besar sekali, mungkin luasnya sebesar telinganya Kaka.
“Pak ini kenapa kepalanya kakak Farhan?” tanya suamiku ke Bapak, sambil menunjuk kepala Farhan di atas telinga kirinya.
“Oh ya, kenapa ya. Benjol ya?” kata Bapakku sepertinya juga baru tahu.
Tidak ada yang tahu di rumah itu kenapa Kaka Farhan benjol. Memang ada anak kecil lain berusia 4 tahun, namun dia tidak bisa juga ditanya apa apa.

Praktek Dokter Anak
Kami tentu sangat kjawatir dan berusaha memeriksakan ke ahlinya. Akhirnya kami membawa Farhan dengan mobil kami ke dokter anak yang praktek dekat rumah. Sebenarnya Kaka tidak menunjukkan rasa sakit dan gejala cedera lain selain bengkak di kepalanya. Saat di mobilpun dia tertidur, sebelumnya dia minum susu seperti biasa. Tidak muntah dan tetap tampil ceria.
Saat diperiksa dokter anak, kebetulan kami urutan ketiga, jadi cepat, Kaka Farhan juga masih tertidur. Dokter memeriksa dan malah sepertinya dokternya yang takut. Kata dokter baiknya diperiksa batok kepalanya, apakah ada yang retak atau tidak. (Hal ini akhirnya baru aku ketahui, dokter anak itu takut kalau anak kami sedang dalam keadaan pingsan saat diperiksa. Seharusnya memang kami memberikan info sedetail. Bahwa anak kami sehat, masih aktivitas normal, makan minum normal dan tidak ada darah di mulut, hidung atau batuk darah.)
Waktu itu dokter menyebutkan beberapa rumah sakit yang tersedia alat CT-Scan. Kira kira ada 3 rumah sakit yang ia sebutkan. Salah satunya saja bisa melakukan pemeriksaan lengkap.
Kamipun menjemput Ibu, jadi ada 4 orang menuju rumah sakit. Akhirnya kami memilih rumah sakit milik pemerintah yang lengkap dan dokternya juga banyak. Malam malam kamipun menuju ke IGD-nya.

Ke Rumah Sakit
Setelah mendaftar dan dicatat identiyas diri lalu dilakukan pemeriksaan awal di dokter triage, Kaka Farhan diserah terimakan ke dokter anak. Seperti biasa dokter menggali informasi perihal kejadian sebelum kaka cedera.
Pak kami akan melakukan pemeriksaan awal ke anak bapak. Kami akan memeriksa Citra kepala anak bapak. Dengan pemeriksaan Rontgent kepala.
image

Periksa Rontgent Kepala
Saya pun membayar tunai sebesar 175rb untuk biaya rontgent. Hasilnya pemeriksaan Rontgent diberikan dalam 30 menit sudah diketahui. Tidak ada retak kecil apalagi pecah besar. Tidak ada cairan darah di dalam tengkorak bagian otak. Jadi aman Alhamdulillah. Dokternya ternyata bukan hanya dokter anak namun ada dokter sarafnya juga (neurologi). Dokter neurologi ini ternyata belum puas dengan hasil pemeriksaan Rontgent. Selain itu memang di surat rujukannya ditulis perlu pemeriksaan CT-Scan. Katanya dia ingin lebih pasti lagi dengan pemeriksaan yang lebih detail.
image

Periksa CT-Scan kepala
Dokter anak versus dokter saraf (Neurolog). Sebenarnya dokter anak setelah pemeriksaan Rontgent ingin agar kami boleh pulang mengingat waktu hampir jam tengah malam. Karena mengingat nanti sulitnya mencari kamar inap rumah sakit dan besarnya biaya CT Scan. Biayanya sebesar hampir 1,5jutaan. Namun dokter anak bilang itu sepenuhnya wewenang dokter saraf karena dialah yang bertanggung jawab untuk cedera kepala pada Kaka Farhan.
Demi anak, tentu kami pun tidak mau berapa persen pun keraguan, meski hanya 1%, kesehatan anak kami ada tanda tanya. Biaya itu memang besar namun kami percaya rizki akan dapat dicari lagi. Kalau ada cedera sedikit takutnya nanti nanti akan bertambah parah.
Akhirnya Kaka Farhan dilakukan pemeriksaan CT-aScan. Persiapannya memang merepotkan karena meskipun tertidur kaka Farhan posisinya harus dijaga agar hasil pemeriksaan bisa baik. Kemudian swtelah selesai kami disuruh menunggu.

Rawat Inap Di Neurologi
Hasil pemeriksaan menunjukkan kepala Kaka Farhan tengkoraknya utuh tidak ada retakan. Alhamdulillah. Segala puji bagi Tuhan Yang Mahakuasa. Waktu itu sudah jam 1.30 dinihari.
Akhirnya kami disuruh rawat inap karena waktu juga sudah jam 11malam. Kata dokter saraf untuk observasi. Seperti yang dikjawatirkan oleh dokter anak memang sulit sekali mencari kamar kosong di rumah sakit ini. Akhirnya dengan bantuan kebaikan hati perawat kami ditawari untuk rawat inap di unit neurologi. Namun kamarnya bercampur dengan orang dewasa.
Banyak hal aneh kami lihat di rumah sakit ini. Mungkin nanti akan kami ceritakan kapan kapan :).
Pagi pagi sekali kami pun bisa pulang kembali ke rumah dengan terkantuk kantuk aku mengendarai mobilku menuju pinggiran Jakarta.

UPDATE: Sejak tanggal 27 April 2015 ada alur yang baru bagi orang yang akan berobat ke Poliklinik Spesialis RSCM baik untuk pasien umum tunai maupun dengan jaminan BPJS Kesehatan, BPJS Kesehatan Mandiri, Informasinya bisa dibaca di sini. Pelayanan Pasien RSCM Mulai 27 April 2015

Cerita Pasien Yang Lain Bisa klik Cerita Pasien

Iklan

Tentang Pegawai BYM

Situs ini adalah situs di luar pekerjaan dinas pegawai BYM, Jakarta Pusat. Hanya sekedar berbagi dan having fun kepada dunia
Pos ini dipublikasikan di Cerita Pasien dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s